Monday, February 13

A QUICK ESCAPE: PULAU KELOR, ONRUST DAN CIPIR.

Monday, February 13
Jadi ceritanya 2016 udah mau abis dan gue sama sekali belum nge-trip kemana-mana tahun ini. Oh sungguhlah butuh piknik. Tapi sebagai anak kosan newbie, gue gak bisa berbuat apa-apa karena ibu kos berhasil merampas hak piknik gue. 

*insert meme nangis di bawah shower disini*

Sampai akhirnya hari Jumat yang lalu gue memutuskan untuk harus pergi sejenak kabur dari rutinitas. Mari kemana kemon, yang dekat dan murah-meriah.

Setelah browsing sana-sini, akhirnya ketemu trip murah di luar Jakarta. Ya kemana lagi saudara-saudara, Pulau Seribu jawabannya. Trip sehari main-main di tiga pulau kecil: Kelor, Onrust dan Cipir. Berangkat!

14566667_173137579815395_8694055542831710208_n

Gimana caranya kesana?

Cara yang paling mudah buat ke tiga pulau ini adalah dengan menggunakan tour trip. Ibaratnya tinggal bayar, duduk di perahu, sampai.

Coba buka Mbah Google, masukkan keyword "Trip Sehari Tiga Pulau" dan akan muncul banyak sekali pilihan tour trip yang menawarkan piknik ke tiga pulau ini. Rata-rata fasilitas dan itinerary yang ditawarkan sama. Pilihan tanggal berangkatnya pun fleksibel, karena ada yang berangkat setiap weekend. Harganya saja yang kadang-kadang berbeda tipis, silahkan disesuaikan dengan budget masing-masing.

Tapi, sekedar tips, kalo lo berangkat cuma sendiri, gak perlu repot-repot cari tour trip sih. Langsung datang aja ke Gedung Pelelangan Ikan di daerah Kamal Muara. Ngomong langsung sama tour guide-nya, bayar di tempat dan langsung bisa ikut nge-trip. Cuma ya itu, asal lo sendirian. Jaga-jaga kalau kuota trip penuh, nambah satu orang sih masih bisa.

15056704_1771843919738221_7105914324832485376_n

Kemudian, apa itu Gedung Pelelangan Ikan di Kamal Muara? Ini adalah dermaga keberangkatan perahu kalau mau ke Pulau Seribu. Tapi ini versi yang low cost carrier-nya. :D

(Bukan cuma ke tiga pulau ini, tapi pulau yang lain macam Pulau Pramuka, dll juga bisa berangkat dari sini. Ada juga dermaga keberangkatan lainnya kalo mau ke Pulau Seribu, misalnya Muara Angke atau Pantai Mutiara, tapi sepertinya harga perahu juga berpengaruh ke harga trip-nya)

Dari dermaga di Gedung Pelelangan tadi, naik perahu sekitar (kurang lebih) setengah jam, maka sampailah di pulau pertama.

Ada apa aja di tiga pulau itu?

Pulau pertama yang disambangi adalah Kelor. Ya, pulau kecil dengan reruntuhan Benteng Mortello di tengah pulau. Untuk sejarah lebih lanjut mengenai Pulau Kelor dan Benteng Mortello bisa baca disini. Tapi di sekitar benteng juga banyak terdapat penjelasan-penjelasan singkat mengenai pulau dan benteng ini.

15043554_569403219922215_5097253314148433920_n

Ya, walaupun pulau ini sangat kecil dan gak ada objek lain yang bisa dilihat selain Benteng Martello, tapi personally gue bilang kalau pulau ini yang paling cakep dibanding pulau lainnya. Karena kita masih bisa duduk-duduk di pasir putih sambil main air.

Kemudian pulau berikutnya yang dituju adalah Pulau Onrust. Pulau kedua ini lebih besar dari pulau sebelumnya. (Paling besar diantara ketiganya pun, gue rasa!) Pulau Onrust ini termasuk pulau bersejarah, karena banyak sekali cerita-cerita yang berkaitan dengan pulau ini. Terbukti dengan dibangunnya beberapa museum yang menggunakan bangunan rumah sakit, penjara dan kuburan pada jaman dulu.

14716575_1896104173944291_4052423294429691904_n

Konon katanya, jaman dulu bagi umat yang ingin naik haji, akan berkumpul di pulau ini dulu sebelum berangkat ke Mekkah menggunakan kapal.

Untuk info sejarah lainnya mengenai sejarah di pulau ini, bisa baca disini.

Cuma ya itu, pulau ini gak kayak pulau yang lo bayangkan. Bukan tipikal pulau dengan pepohonan landai menjorok ke laut, lengkap dengan pasir putih cantik. NO! Malah pulau ini lebih mirip seperti hutan karena dipenuhi oleh pohon besar. Lebih mirip hutan dibandingkan pantai. Makanya banyak sekali nyamuk di pulau ini. Gue saranin musti bawa lotion anti nyamuk kalau mau berkunjung ke pulau ini.

Oh iya, gue pengen bagi tips kalau kalian lagi di Pulau Onrust. Di sekitar pinggiran pulau ini ada menara tangga. Cobain untuk naik ke atas, entah cuma sekedar duduk-duduk atau ngobrol-ngobrol. Rasanya surga, karena bisa lihat pemandagan sekitar dari atas sambil ngerasain sejuknya angin.
Dan pulau terakhir yang terakhir dikunjungi adalah Pulau Cipir. Untuk sejarah mengenai pulau ini mungkin bisa dibaca di Google, ya guys, enggak ada wikipedianya soalnya. :D

Enggak banyak yang bisa dilakukan di Pulau ini. Karena cuma ada reruntuhan bangunan yang tersebar di sekitar pulau. Yang pasti, kalau di Pulau Cipir musti minum air kelapa. Kenapa? Karena disini harga kelapanya lebih murah dari Pulau Onrust.  :D

14553255_1601757053463934_559375033097519104_n

Sekitar pukul 15.00-15.30, biasanya trip sehari keliling tiga pulau kecil ini sudah selesai, waktunya bersiap-siap kembali pulang ke dermaga asal berangkat pagi tadi.

Ya, walaupun pemandangannya tidak seindah pulau lain disekitarnya, setidaknya gue bisa melarikan dari rutinitas. Sejenak tidak berpapasan dengan polusi, gedung bertingkat dan gaduhnya ibukota. Membiarkan diri terbuai angin sambil menikmati laut sejauh mata memandang.

14606967_194649020991589_6702131929505857536_n

Emang kalian gak bosen apa gitu ngelihat tumpukan berkas kantor?

Yakin gak mau lihat laut apa pantai sekali-kali? Mumpung deket dan murah.

YEKAAAN  :D

Rumah Baru

Karena sejauh apapun melangkah dan mencari, rumah adalah tujuan pemberhentian terakhir. 

Mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan blog ini. Mulai menulis blog dari circa tahun 2010-an. Diari berjalan, puisi-puisi receh, berburu kuis, review ala-ala, travel log sampai apa saja yang ada di kepala. 

Ya, walaupun ibarat gelombang, pasang surut. Kadang menulis dan kebanyakan tidak menulisnya. Setelah beberapa kali menumpang di rumah orang, blogspot dan wordpress, akhirnya memberanikan untuk punya rumah sendiri.

Kalau biasanya selalu menggunakan istilah bermain bersama kata-kata, mungkin sekarang sudah saatnya untuk mulai menjalin komitmen yang lebih serius lagi bersama mereka. 

Semoga hubungan ini semakin langgeng. Bukan cuma semangat di awal saja, tetapi juga bisa berkelanjutan. 

Tidak akan ada lagi istilah “brb beres-beres sarang laba-laba di blog” atau “brb sapu-sapu halaman blog yang berdebu” di kemudian hari. 

Selamat datang di rumah yang baru, Selamat menikmati!

Friday, September 13

Friday, September 13

"Less care ke mereka yang mungkin kehidupannya ‘menggelitik’ untuk di komentari, karena kita ngga pernah tau apa yang sebenarnya tengah mereka alami di hidupnya."

 - Mbak Woro, on ThePradonos.Com

Hujan di Bulan Juni

Bukan, ini bukan tentang mahakarya sastra buatan Sapardi Djoko Damono yang termahsyur itu. Apalagi berusaha untuk menafsirkannya.

Siapalah hamba?

Mencari arti dan makna hidup dalam beberapa bulan belakangan ini saja hamba sudah tidak sanggup. Apalagi mencoba mencari arti dan makna dalam tiap susunan aksara yang tersurat, maupun tersirat, dibalik puisi beliau.

Hamba yang terjatuh. Mencoba merangkak kembali dari bawah, perlahan, demi menggapai apa yang perlu digapai. Menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.

Hamba yang putus asa. Hampir menyerah. Ketika terlalu banyak berharap menjadi sebegitu menyakitkan. Ketika mimpi justru menjadi peluru yang membunuh.

Hamba yang tersesat. Kesana-kemari mencari jawaban, tidak tahu arah. Tak ada pilihan, hanya mengikuti kemana telapak kaki membawa pergi. Hamba yang menyusahkan. Menjadi beban pikiran serta penderitaan.

Hamba yang dihakimi. Berbicara seolah-olah mereka tahu banyak. Padahal peduli sedikitpun tidak.

Entahlah. Tahu apa hamba soal hidup dan segala jawaban atas persoalan di dalamnya?

Tentang kekecewaan dan sakit hati.

Tentang menyerah dan patah hati.

Tentang bersabar walau berat hati.

Oh, mungkin ini yang dimaksud dengan hujan di bulan Juni. Beberapa tetes rintik air yang mengalir pelan di pinggir mata sekarang ini.




(Tulisan ini dibuat di awal bulan Juni dan akhirnya di-posting sekarang!)

"Tidak ada salahnya untuk mau memahami orang lain terlebih dahulu sebelum menasihati."
- Acid Augustine
DRIVO JANSEN © 2014