Sunday, November 14

Aku Membelah, Tapi Tidak Terbelah.

Sunday, November 14

Seperti ingin membelah diri.
Menyelesaikan tugas masa lalu serta mencari tahu masa yang akan datang.


Seperti ingin membelah hati.
Yang satu untuk mengobati yang lain.
Alasan lain kenapa saya ingin membelah hati:
Tak perlu takut untuk jatuh. Karena yang satu akan mengingatkan yang lain.


Saya pun ingin membelah pikiran.
Bagai ranting bercabang yang ditiup angin maka terbang. Mengayunkan namamu seorang.


Atau ada yang tau bagaimana cara memperbanyak mata?
Dua rasanya kurang. Terbuai paras berbalut kecantikan. Sayang untuk dilewatkan.


Begitupun dengan telinga. Tak cukup dua.
Masih banyak partitur nada dari surga yang belum dimainkan. Menunggumu bersuara.


Apalagi bibir yang hanya satu? Tebalnya kamus masih menyimpan kata. Belum semua terucap rata. Satu yang sering, yakni kata cinta.

Terus kenapa kaki hanya dua? Sementara jarak berjuta?
Haruskah berpacu pada waktu agar ujung semesta dapat tersentuh?


Membelah tangan. Diperbanyak menjadi empat.
Menyentuh langit dengan cepat, tepat. Dimana mimpi terbentang hebat.


Jutaan sel. Ribuan saraf. Dikalian menjadi dua. Bertemu di nadi.
Berjalan bersama mengelilingi sendi. Menanti hari ini


Tapi tolong jangan paksa aku membelah atau memperbanyak cinta.
Karena kita. --Aku. Kamu. Hanya satu.




Wanita Bermata Surga


Tatapanmu tertangkap retinaku.
Walau tak terlalu jelas, tapi cukup membekas.

Mungkin ini yang dinama surga.
Ya, aku baru saja melihatnya.
Mengurai kagum. Bersimpuh sujud.

Seolah kuda putih bersayap emas turun perlahan dari awan sana.
Mejemput terbang ke nirwana.

Tak ada siapa-siapa disitu.
Hanya aku dan pikiran yang turut melayang.
Menuju Pencipta sembari bertanya.
Apa yang dilukisnya di matamu?

Tak ada coretan amarah.
Lihat! Mana ada kerutan tertempel di pinggir situ?


Begitupun gambaran kesedihan.
Tak terlihat sembab. Air mata tak diproduksi di dalamnya.

Hanya tampak tinta putih kebahagiaan.
Tak bernoda.

Rasa penasaranku timbul.
Apa rahasia mata ini?
Kucoba tangkap lagi tatapan itu

Kutelusuri tiap jengkal tubuhnya.
Mencari tahu rahasia tatapan surga mata itu.

Hingga kutemukan sebuah ruangan bergembok.

Kuketok! Tak ada sahutan, 'Diam, goblok!'.

Kudorong perlahan. Ternyata gembok tak terkunci.
Kulihat sekitar, terang.
Samar terlihat tulisan, 'RUANG HATI'!

Banyak penghuni rupanya di dalam.
Ada ketulusan,
Rasa syukur,
dan pengendalian diri.

Bingung aku. Apa yang sedang mereka lakukan?

Mungkin ini rahasia wanita pemilik mata indah itu.

Penghuni surga. Ya, surga hatiku.


Wednesday, November 3

i'am. you are.

Wednesday, November 3
i'am moody. and you boost me up mostly.

i'am mellow. for you are my drama life.

i'am sad. for you are my tears.

i'am laugh. for you are my happiness.

i'am tragic. and you are my sweet accident.

i'am confused. but you are my final destination.

i'am melody. for you are my song.

i'am fly. for you are my wings.

i'am energetic. you are my ecstasy.

i'am tired. for you are my footsteps.

i'am exhausted. for you are running right in my mind.

i'am rest. for you are my life.

i'am universe. for you conspires me.

i'am book. for you are my chapter.

i'am sky. for you are my limit.

i'am dark. for you are my light.

i'am artery. for you are the blood.

i'am sick. for you are the pain.

i'am negative. for you are my positivity.

i'am stuck. but you are my sweet escape.

i'am stress. because you are my biggest problem.

i'am alpha. you are the omega.



Aku. Kamu. Titik.

Aku. Kamu. Satu cinta. Bernama surga.

Aku. Kamu. Dan kita tertawa. Definisi bahagia.

Aku. Kamu. Menunggu pagi. Berharap tak ada yang pergi.

Aku. Kamu. Menulis cerita. Hingga tua renta.

Aku. Kamu. Mengurai tangis. Berujung manis.

Aku. Kamu. Mengurai benang emas. Menyulam mimpi.

Aku. Kamu. Seucap doa lembut. Bertelut sujud.

Aku. Kamu. Terucap janji. Menggenggam hati.

Aku. Kamu. Berkata mesra. Meredam amarah.

Aku. Kamu. Bersama melangkah. Tak hilang arah.

Aku. Kamu. Terlanjur. Rasa yang sama.

Aku. Kamu. Tak dimakan cemburu. Tak habis waktu.

Aku. Kamu. Merelakan kepergian. Hanya jika kematian.

Aku. Kamu. Cobaan yang menguatkan.

Aku. Kamu. Meretas gundah. Melahirkan rindu.

Aku. Kamu. Akankah jadi satu. Melebur dalam 'kita'.

Aku. Kamu. Sederhana. Cinta.

Aku. Kamu. Akhir sukacita.

Tentang Lara.

Terdiam dalam masa.
Menanti harap sambil terucap doa kala resah.
Menenangkan asa.

Dada membuncah seolah ingin teriak.
Tapi apa daya bibir terjahit rapat.
Terikat oleh benang hitam kehidupan.

Guratan mata tak bisa berdusta.
Retina memerah terurai air mata.
Bukan, ini bukan tentang hati yang patah.
Tapi tentang jiwa yang lara.

Pikiran lalu lalang.
Kadang datang, kadang pergi tanpa permisi.
Menyisakan ruang kosong di otak.
Mencipta lamunan hingga tersentak .

Kaki melangkah gontai.
Ketika langkah ini hilang arah.
Sementara jiwa hilang harap.

Raga ikut membisu tak bergerak.
Bukannya sedang malas, hanya terlalu lelah untuk memelas.
Kepada Dia, Sang Pemilik Welas.

Berharap teriak kepada ombak.
Agar semua ini ikut terhempas.
Ditelan lenyap oleh deburnya.

Tapi apa daya.
Ini pun hidup.
Penuh ombang ambing ombak juga.

Menyisakan lara.
Bertemankan aku.
Seorang.


DRIVO JANSEN © 2014