Saturday, October 9

Khafilah Pencari Rumah

Saturday, October 9


Dicari! RUMAH.

Berpintukan rasa menghargai.
Sehingga ide apapun bisa masuk kedalamnya.
Tanpa mengenal apa itu dicemooh.

Berjendelakan kesabaran.
Dan tak mengenal amarah.
Tak perlu ada wajah muram yang selalu memandang.

Beratapkan perlindungan.
Sehingga tak perlu mengenal apa itu takut.
Untuk kaki berpijak di bawahnya.

Berpondasikan cinta.
Sehingga tak perlu mengenal muram.
Karena ada tawa di setiap materinya.

Aku khafilah yang sedang mencari tempat singgah.
Jika kalian menemukan tempat itu, beritahu aku.

Tentang Mendung. Tentang Aku.


Mendung itu kelabu yang membayangi hati.
Menyingkap kegalauan di tengah kekacauan. B
ertengger di dahan jiwa yang rapuh.
Menyisakan kicau.

Mendung itu mengundang rintik hujan yang jatuh.
Laksana air mata yang menggantung di pelupuk retina.
Menunggu jatuh, akibat rindu.

Cerah matahari yang tetiba berubah jadi gelap awan.
Entah hati siapa yang sedang tersakiti atau yang menyakiti.
Disitupun tampak mendung.

Pun jiwa yang malas.
Bergerak serasa susah.
Memang bukan salah bunda mengandung.
Atau salah teman-temannya Cinta.
Lihat keluar, mendung!

Langit ikut pudar. Tadi biru sekarang kelabu.
Entah cinta siapa yang dicontohnya.
Terselip mendung, disitu.

Hanya terdengar butir hujan yang semakin mengeras.
Sementara hati terus berkeras, ingin seperti mereka bebas.
Pun ada mendung disitu!

Langit lega mencurahkan isi hatinya.
Lihat hujan itu. Tp kenapa hati tetap mengganjal?
Coba tanya mendung. Mungkin dia tahu rahasianya!

Berharap matahari datang cepat.
Menyudahi kegalauan ini dengan sinarnya.
Karena mendung itu aku. Sekarang ini.


Adakalanya, Diam.



Otak dicipta dari ribuan bahkan jutaan saraf.
Pantas dia tak bisa diam.
Bekerja dan berpikir.
Bahkan ketika raga ini lelap di alam mimpi.


Begitu pun dua bola mata ini.
Pancaran penasaran.
Entah apa yang mampu membuatnya mampu berkedip lebih cepat dari hitungan detik?


Juga telinga yang berdaun dua ini.
Sekencang apapun gendang di dalamnya,
dia mampu menangkap berita sekecil apapun juga.


Pun dua lubang hidung ini.
Penyaring hebat yang pernah ada.
Si kotor mampu dipisahnya dari si bersih.
Otomatis.


Ada juga dua tangan ini.
Terdiri dari sepuluh jari untuk bekerja serta lengan untuk tempatmu bersandar.


Juga dicipta-Nya dua kaki ini.
Untuk menapaki jalan.
Bernama kehidupan.


Jika semua dijadikan dua?
Lantas kenapa bibir kenapa hanya diciptakan satu?
Apa ini yang dinamakan Tuhan tidak adil?


Apakah supaya bibir tidak lebih cepat marah
daripada mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar? Mungkin.


Tapi yang pasti Tuhan benar.

Kadang kala menjadi diam itu baik.



Saturday, October 2

Terpenjara. Aku.

Saturday, October 2


Terpenjara itu ketika kata terperangkap dalam dada. Sementara rindu sedang melanda.
Terpenjara itu bagaikan hamparan angan. Di rongga otak, dia tertahan. Ingin berlari melewati bibir. Sungguh getir.
Terpenjara itu ketika kumpulan huruf telah berkumpul. Kalimat menjadi satu. Terperangkap dalam tanda kurung, bernama rindu.
Terpenjara itu tak bisa berbuat apa. Membuat terbalik. Mata tak lagi berkedip ketika hati yang sudah mulai bicara.
Jarak dan waktu memenjarakanku. Imagi akan dirimu menyiksaku. Berharap ada yang mengobatiku. Rindu.
Penjara itu kamu. Menyiksaku dari dalam, anehnya membuat aku tak mau keluar. Membiarkan diri terisolasi jeruji hatimu.
Dan aku mau dipenjara.Mendiami ruang sempit di hatimu. Hanya ada kau, aku dan kita. Melebarkan pemikiran tentang cinta.
Apakah mencintaimu adalah hal kriminal? Sehingga kau masukkan aku ke penjara hatimu? Kau jadikan aku tahanan rindumu?

Dan Terpenjara itu aku. Dalam jeruji bayang mu.

Bahagia Itu, Pagi Ini

Langit masih gelap kebiruan. Tapi aku sudah bersiap mengais rejeki di tengah kerasnya ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.
Semua ini demi selengkung senyum kebahagian di bibir mungil milik perempuan kecil berumur sepuluh tahun. Satu-satunya harta yang kupunya.
Ku kecup keningnya, menandakan aku pamit kerja.
Langit dengan cepat berubah gelap kembali. Ganti bintang dan bulan yang kerja. Pertanda aku sudah harus menyudahi rutinitas ini.
Rasanya waktu dua puluh empat jam itu kurang. Kalian boleh memanggilku si hamba uang. Tapi teringat lagi, peri mungilku. Masa depannya. Bahagiaku.
Setiba dirumah, kubuka gagang pintu kamarnya. Lampu sudah mati.
Hanya terlihat siluet gadis kecil memeluk guling sedang tertidur lelap.
Aku datang mendekat. Ku kecup keningnya. Kali ini memberitahu bahwa aku sudah dirumah.
Perlahan aku keluar sambil berusaha tidak membuat suara, agar peri kecilku tidak terbangun.
Entah kenapa, kakiku menuntun langkahku ke daerah sekitar dapur. Entah kaki atau perut yang kali ini berperan.
Aku terperanjat. Ada sehelai kertas tertahan magnet tergantung menempel di pintu kulkas bagian atas.
Terlihat tulisan cakar ayam di dalamnya. Tahulah aku siapa penulisnya.
Ayah.
Pasti ayah baru pulang waktu baca surat ini.
Dan aku sudah bermain bersama peri lain di alam mimpi.
Memang ayah tak pernah lelah berlomba dengan matahari?
Pergi mendahului matahari dan pulang sesudahnya.
Padahal aku ingin menyimpan tas kerja ayah di kala ayah membuka pintu.
Menyediakan air minum ketika ayah sedang duduk bersandar di sofa.
Diucapkan ‘selamat tidur’ oleh ayah.
Diusap kepalanya.
Seketika air mata ini tumpah.
Belum selesai kubaca kalimat berikutnya. Tak tahan hati ini.
Ada apa di otakku. Kebahagian macam apa yang sedang ku coba berikan.
Tersadar aku.
Lalu aku melangkahkan kakiku kembali ke kamarnya.
Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kupandangi dirinya. Air mata kembali tumpah. Seketika rasa bodoh dan bersalah menyelimuti aku.
Kudekap peri mungil ku erat, hingga akhirnya terlelap.
Aku berusaha menyilangkan tanganku di atas mata. Silau.
Langit tak lagi berwarna gelap kebiruan melainkan cerah. Mentari sudah siap di posisinya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ‘Selamat pagi ayah!’. Sebuah kecupan mendarat di pipiku.
Kuusap kepalanya.
Kupeluk dan kugendong dia.
Kubiarkan matahari cemburu melihat tawa kami.
Kutemukan arti bahagia. Pagi ini.

By drivojansen, on August 25th, 2010


DRIVO JANSEN © 2014