Showing posts with label Heritage City. Show all posts
Showing posts with label Heritage City. Show all posts

Monday, February 13

Malaka, The Heritage City.

Monday, February 13
Gak pernah kepikiran sama sekali bakal mampir ke Malaka, karena ya –sama seperti udah dibilangin sebelumnya, kalo gak ada itinerary khusus dalam trip kali ini. 

Sampai akhirnya mata gue menangkap sebuat flight magazine nganggur di depan mata. Ya daripada bengong, akhirnya nyobain buat baca-baca itu majalah. Dan ternyata hi-lite artikelnya tentang Malaka. JENG! JENG! And that’s it, masih belom ada rencana ke Malaka, pada saat itu. 

Terus akhirnya kepikiran, kalo dilihat di peta kan Malaka itu ditengah-tengah Singapore dan Kuala Lumpur, jadi kenapa gak sekalian dilewatin –toh juga gue mau ke Kuala Lumpur dari Singapore via darat. Maka jadilah demikian sodara-sodara.


Udah hampir tengah malam waktu nyampe di Terminal Malaka Sentral. Dan berhubung gak ada rencana kesini sebelumnya, jadi gak kepikiran juga buat booking hostel. Jadi yasudahlah, mari kita kemon tidur dimana, pemirsah? 

*menyodorkan mic ke penonton* 

Ya, betul. Di terminal. HAHAHA! :D 

Untung terminalnya gak kayak terminal pulogadung atau kampung rambutan gitu ya? Jangankan tengah malam, siang-siang bolong aja serem, yasalam! 

Terminal Melaka Sentral ini cukup gede –gede banget malah bisa dibilang. Karena bukan cuma terminal aja, dia juga ter-integrated sama pasar (bukan pasar becek gitu ya, tapinya) dan bazaar (macam mall gitu lah). 

Tapi berhubung udah nyampe tengah malam buta, gak jadi gak bisa keliling-keliling lihat pasar atau mall-nya. Udah seneng pas lihat McDonald’s, kirain buka 24 jam gitu –ya lumayan lah kan ya, bisa ngadem-ngadem numpang nyenderin kepala gitu :D, eh ternyata gak berapa lama kemudian udah beres-beres mau tutup aja dong :(. 

Untung –tuh kan namanya juga orang Endonesa, masih ada aja untungnya, dikasihtauin sama pak satpam kalo ada ruang tunggu di dalam terminalnya. Dan ternyata udah banyak aja dong travelers yang udah pada selonjoran di bangku panjangnya. Untung masih dapat lapak :D Enggak bisa tidur juga sih. 

Akhirnya cuma bolak-balik selonjoran-duduk-terus selonjoran-terus duduk lagi sambil baca-baca buku. Dan banyak banget kejadian aneh bin ajaib disini. Mulai dari ngobrol-ngobrol sama seorang bapak TKI dari Madura. Terus diajakin pulang sama bapak-bapak macam-orang-India-atau-Bangladesh gitu lah perawakannya –yasalam! Dan yang terakhi, diikutin sama orang down-syndrome. :|


Sementara itu, Stadthuys sendiri ialah deretan bangungn berwarna merah yang dulunya dikenal sebagai rumah Gubernur Belanda. Sementara itu disekitar bangunan ini yang disebut juga sebagai Dutch Area, terdapat gereja Christ Church yang usianya sudah lebih dari 250 tahun.


Terus ada juga Melaka River, dengan rumah-rumah penduduk bergaya peninggalan Belanda di sepanjang sisinya. Nah, kalo mau ikutan tur Melaka River Cruise, mengitari sungai sambil menikmatai pemandangan di sekitar, monggo.


Terus ada juga Benteng A Famosa, sebuah benteng peninggalan Portugis. Bangunan ini cukup ini –ya, selain cukup tua juga, karena yang tersisa dari bangunan ini hanya dinding dan pintu masuknya saja. Cuma, berhubung Benteng A Famosa ini letaknya di St.Paul Hill –sebuah undakan bukit, deket banget jaraknya dari gereja Christ Church, jadi cukup mengeluarkan tenaga untuk bisa sampai disana karena harus naik tangga yang *ahem* cukup banyak juga.



Selesai dari sini, sisanya cuma jalan kaki muter-muter ngelewatin St.Francis Xavier Church, Menara Taming Siring, Museum Kelautan yang bentuknya macam bahtera Nuh.



Nah, berhubung pas berangkat kemaren di pesawat kan nemu artikel tentang Malaka dan sempet baca, katanya: kalo lagi di Melaka, harus-banget-kudu-musti-wajib nyobain yang namanya Chicken Rice Ball di Kedai Kopi Chung Wah, di sekitaran Jonker Street. 

*And, yes! Achievement unlocked!*



Ini emang artikelnya gak salah! Enak pake banget, yasalaaaam! Itu nasi yang dibentuk bola-bola gitu –nasinya pulen bener, yasalam! Terus ayamnya polos gitu aja tapi tauk deh dipakein bumbu apa jampe-jampe apaan, rasanya jos-gandos-endang-bambang! Sambelnya juga itu, hadududuh! Pokoknya beneran deh, kalo ke Malaka harus mampir dimari. 

*lap iler* 

Gak nyampe setengah hari di Malaka. Tapi lumayan banyak tempat yang bisa dikunjungi walaupun dengan jalan kaki. Iya, masih ada beberapa tempat lagi sih di Malaka yang belum sempat dikunjungi. But yes, it was short and sweet, indeed!

Georgetown, A Laid Back Town.

Enggak tahu kenapa, selalu ada hal menarik dari sebuah kota tua yang berhasil memikat hati gue. Entahlah, paling gak tahan sama sesuatu yang auranya berumur gitu. 

*brb gandeng tangan Mbak Yuni Shara* 

*halah* 

Ya, Georgetown.

Ibukota dari negara bagian Penang di Malaysia ini sudah menjadi incaran gue untuk dikunjungi setelah menyambangi saudaranya, Melaka, di tahun sebelumnya. 

Acungan jempol untuk pariwisata Malaysia yang bisa banget merawat warisan kota tua dan menjadikannya sebagai tujuan pariwisata. PR buat bapak menteri pariwisata kita yang baru nih, semoga bisa kesampean ya, Pak. 

*Mz, mau bikin tulisan politik apa mau cerita tentang trip kemaren, Mz?* 

*Oh, iya. Maap, Mb!* 

Georgetown itu kota yang menyenangkan sekali. Kotanya tidak terlalu besar. Sehari-dua hari keliling kota juga cukup. Dan yang paling menyenangkan buat gue sih, ini kotanya laid back banget. Enggak terlalu rushing atau crowded macam kota-kota besar pada umumnya. 

Everyday feels like holiday, really.

Lo bisa nemuin ibu-ibu yang masih pake baju rumah ngerumpi-ngerumpi cantik –tanpa maju mundur maju mundur atau bunyi tak-tok-tak-tok ya, di rumah-rumah makan. Atau kakek pagi-pagi udah stand by baca koran sambil santai sarapan disini. 

Gak ada gerombolan orang-orang kantoran yang jalan tegak lurus sambil buru-buru atau mereka-mereka yang sibuk mengejar waktu. Speaking of how laid back is this city.



Dan bukan warisan kota tua namanya kalau gak ada bangunan-banguan yang bisa memanjakan mata. Apalagi buat tower fetish macam gue. Dari bangunan menarik ke menarik lainnya gak memakan waktu yang cukup lama atau jauh. Gue aja kemaren keliling-keliling kotanya jalan kaki. 

Capek? Gapapa, yang penting puas. Bisa ngelihat Masjid Kapitan Keling, Church of Assumption, St.George Church dan yang lainnya.





Sambil keliling-keliling ngelihatin bangunan menarik di Georgetown, jangan lupa hunting murrals (street art) disini. Karena Georgetown identik sekali dengan gambar di dinding bangunan yang lucu atau unik.








Kita bisa nyewa sepeda buat eliling-keliling hunting nyari murals di Georgetown, atau kalau mau ngirit budget bisa sambil jalan kaki kok. Karena kotanya enggak begitu besar, seharian bisalah kalo cuma buat keliling-keliling nyari murals.


Terus kalo laper abis keliling-keliling kota gimana? Tenang! Di Georgetown banyak food stall bertebaran, apalagi kalo udah malam. Kebetulan gue menginap di sekitaran Love Lane, yang notabene kawasan backpacker di Georgetown, dan kalau sudah malam bayak jajanan tenda di sekitar situ. Atau coba main-main ke Kimberley St. juga banyak food stall bertebaran, cobain Curry Mee-nya deh.


Cuma ya itu, harus ditanya dulu halal apa enggaknya. Alhamdulilah, saya hampir makan pork noodle. Saking lapernya, ceritanya main langsung pesen-pesen aja begitu lihat mie. Eh begitu ngelihat kok bentukan dagingnya beda dan pas nanya, WAKWAW! Hahaha :D 

*elus-elus dada* 

Tapi jangan sedih! Ada food stall yang jualan burger yang enak di dekat situ, Manchaster Burger (entahlah, ada ‘United’-nya apa enggak), letaknya di seberang Sevel Love Lane. Dia bukanya kalo malam aja. Gampang kok ngelihatnya, semua dekorasi gerobaknya dipenuhi sama warna merah dan pernak-pernik Manchaster United. Porsi burgernya yang lumayan besar, ada fried potato juga. Enak lah pokoknya kalo buat cemilan malam.



Terus ada satu tempat juga di Lebuh Campbell Lane. Tempatnya memang gak strategis, karena di ujung lorong situ. Bukan macam cafe-cafe hits di kota besar sini modelnya. Tapi di situ gak pernah sepi. Rame terus tempatnya. Cobain teh tarik sama roti bakar selai srikayanya. Ini bakar rotinya masih tradisional banget, masih pake tungku arang besar gitu. Gak usah ditanya kalo soal rasanya mah. Cobain langsung aja. 

Oh iya, ini rahasia di antara kita aja ya. Ada satu tempat yang harus kalian kunjungin kalo lagi main-main ke Georgetown. Ada satu taman terbuka di deket terminal bis Georgetown, ke arah dermaga kapal feri, di sekitar Weld Quay Bus Depot, cobain deh duduk-duduk disitu pas sore-sore menjelang malam. Pemandangan langsung ke laut lepas, sambil ngerasain angin sepoi-sepoi. Duduk-duduk sambil bengong-bengong cantik aja disitu, ngelepasin rutinitas sejenak. 



 Jadi gimana? Yakin gak mau main-main ke Georgetown?


DRIVO JANSEN © 2014