Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Thursday, March 14

Berbalas Rindu (Surat Untuk Surga)

Thursday, March 14
Halo, Pa.

Apa kabar di atas sana? Kami di bawah sini baik-baik saja. Walaupun kadang masih belum terbiasa. Masih terlalu cepat rasanya. Terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, terlebih untuk diterima.

Oh iya, tau kan besok hari apa? Iya. SUPERSEMAR. Bukan, bukan tentang perpindahan kekuasaan politik apalah itu.

Tapi, Suasana Pernikahan Sebelas Maret.

Iya, kalimat itu yang tertulis di balik undangan pernikahan kita waktu itu, delapan tahun yang lalu.

Kamu masih ingat, kan?

Tapi justru bukannya merayakan hari jadi pernikahan kita besok, kami –iya, aku dan anak-anak, malah merayakan hari peringatan yang lain hari ini.

Ya, tepat sebulan yang lalu kamu pergi.

Kabar aku –yabegitulah, aku yakin kamu pasti mengerti. Dibilang baik, tapi dalam hati sebenarnya enggak. Dibilang enggak, tapi aku harus baik-baik aja. Operasiku berjalan lancar. Walaupun masih bed-rest dan belum bisa ngapa-ngapain. Seandainya ada kamu disini pasti rasa sakitnya gak akan sesakit ini.

Kabar anak-anak baik. Ada mamak tua dan Opungnya yang ngejagain mereka selama aku sakit.

Walaupun udah gak ada lagi yang ngajak mereka jalan-jalan kayak biasanya sering kamu lakukan dulu buat manjain mereka. Oh iya, si yang paling kecil, giginya udah tumbuh banyak, dan udah pintar tepuk-tepuk tangan. Ah, sayang banget kamu gak bisa lihat dia belajar berdiri.

Mereka rindu kamu. Aku apalagi.

Terus sekarang kamu ngapaian aja disana? Enak ya, sekarang bisa santai-santai jalan-jalan di Taman Eden. Hihihi.

Kalau dulu kamu kan sibuk banget. Bangun subuh, masak buat aku dan anak-anak, abis itu siapin mereka sekolah, abis itu ngurusin aku dulu sebelum kamu berangkat kerja.

Tuhan baik banget ya. Mungkin Dia tahu kamu udah capek, makanya Dia cepet-cepet panggil kamu buat santai-santai di atas sana.

Aku barusan check Facebook kamu, akhirnya memberanikan diri untuk membuka. Walaupun masih sedih lihat foto kamu, foto kita sebagai Profil Picture-nya. Banyak banget yang ngeraa kehilangan kamu. Wall Facebook kamu penuh sama ucapan dukacita.

Orang-orang ngerasa kehilangan kamu. Aku apalagi.

Pa, nanti kita sambung lagi ya. Ada suster yang datang buat check-up.

PS: Kalau ada kata yang lebih kuat dari rindu, anggap saja aku menggunakan kata itu untuk menggungkapkan rasa ini padamu sekarang.


Love,
Aku, yang menatapmu
dari bawah sini.

_____________________________________________________________

Halo, Ma.

Sebelumnya, lucu, betapa kamu sempet-sempetin nulis surat untuk aku ditengah-tengah menunggu suster untuk check-up.

Seperti biasa, hal-hal kecil yang kamu lakukan untuk aku, yang selalu sukses bikin aku enggak bisa lupa sama kamu dan delapan tahun pernikahan kita.

Walaupun keadaannya seperti sekarang.

Kabar aku disini baik-baik saja. Kalau boleh jujur sih, tapi plis jangan bilang-bilang sama Tuhan, aku bosan disini.

Habis enggak bisa ngapa-ngapain. Palingan cuma jalan-jalan di Taman Eden, Ngobrol-ngobrol ngalor ngidul.

Kalau boleh milih, aku mendingin di bawah sana; bangun subuh, siapin makanan untuk anak-anak, siap-siapin mereka ke sekolah, ngurusin kamu, baru berangkat kerja.

Tapi kan hidup bukan ujian pilihan berganda, yang bisa dipilih semaunya. Tetap aja Tuhan yang punya kunci jawabannya.

Aku rindu kamu dan anak-anak.

Aku cemburu sama kamu karena masih bisa main-main sama anak-anak. Masih bisa manjain mereka. Dan yang paling penting masih bisa lihat si yang paling kecil belajar ‘tata’.

Kirim salam buat mamak tua dan Opung yang udah jagain anak-anak ya. Bilang terimakasih juga sama yang udah ucapin turut berdukacita di Wall Facebook.

Ma, tulisannya dilanjutin nanti lagi dulu ya. Aku diajakin jalan-jalan ke Sungai Tigris sama Tuhan.

PS: Kamu harus kuat, Ma. Bukan buat aku. Bukan buat kamu. Tapi untuk anak-anak. Untuk kita.

Regards,
Aku, yang menjagamu
dari atas sini.


_____________________________________________________________

Karena sesungguhnya, rindu ini bukan lagi dipisahkan jarak. 
Melainkan oleh alam yang berbeda.

Monday, February 13

Terjebak Hujan

Monday, February 13
picture taken from google.com


"Mungkin kita memang lebih baik putus aja, kamu terlalu baik buat aku!" kata-kata yang diucapkan wanita itu masih terngiang-ngiang di kepalaku sejak beberapa minggu belakangan ini. Alasan yang cukup klise dan dangkal, kalau aku boleh menambahkan.


Hampir setengah jam aku memandangi layar komputer hingga akhirnya tersadar ketika melihat penunjuk waktu di pojok layar menunjukkan hampir pukul setengah tujuh malam.

Lalu aku mulai bergegas membereskan tumpukan pekerjaan yang berantakan di atas meja.

Sama seperti meja kerja, hati dan pikiran ini pun rasanya sama berantakannya. Mungkin sudah waktunya kali ini aku merapikannya dari jebakan masa lalu. Membuang sisa tumpukan kenangan yang sudah usang. Menggantinya dengan memori yang baru.

Jika monitor komputerku saja perlu di-refresh, apalagi otakku?

***

Sambil menunggu lift, kuambil telepon genggam. Dan foto ini melintas begitu saja di linimasa Twitter-ku. Wajahnya, pria yang selalu ada dalam bayanganku. Raut muka berseri-seri, senyum cerah sementara sebelah tangannya menggegam tangan seorang wanita di sebelahnya. Mereka tampak bahagia.

Skak-mat.

Tak ada alasan bagiku untuk merebut kebahagian orang lain. Maka tak lagi yang bisa kuperbuat selain melepasnya bahagia.

Walau kadang rasa itu masih ada dan pikiran itu masih berputar-putar di kepala?

Beginikah rasanya terjebak rindu? Tersiksa.

Aku menekan tombol menu agar tampilan layar kembali ke menu utama. Cepat-cepat bergegas masuk menuju lift yang kebetulan terbuka di depanku.

***

Tanda penunjuk menunjukkan huruf 'G' berarti sudah sampai di ground dan pintu lift pun terbuka. Tampak sekerumunan orang masih berkumpul di lobby kantor. Hujan deras, ternyata.

"Ojek Payung!" teriak dua orang secara bersamaan. Si Ojek Payung yang dipanggil hanya menoleh kebingungan, siapa yang harus duluan dilayani.

"Silahkan duluan! Ladies first, cool last!" sahut Si Pria sambil tersenyum.

"Bisa banget! Udah, gak apa-apa! Kan tadi Si Mas-nya yang panggil duluan! !" balas Si Wanita.

"Udah, gak apa-apa kok!" si pria mempersilahkan.

"Ini jadi ngojek payung gak?" si tukang ojek mulai kesal karena dibuat menunggu.

"Eh, jadi-jadi! Layanin Si Mbak ini aja dulu, baru nanti balik ke sini lagi buat nganter saya!" Si Pria cepat-cepat membalas.

"Yauwislah, kalau begitu! Terimakasih, Mas!" Si Wanita akhirnya mulai mengambil langkah sambil berlindung di bawah payung.

Tak sampai beberapa langkah, Si Pria tiba-tiba berteriak memanggil Si Wanita, mencoba melawan derasnya suara hujan, "Gue Valerie, anak lantai 8!"

Si Wanita menghentikan langkahnya kemudian menoleh, "Gue Lavina, anak lantai 6!"

Di bawah hujan, mereka saling melempar senyum.

Ya, Tuhan itu baik. Dia sengaja mengirim hujan biar kita tahu rasanya terjebak hujan, enggak melulu terjebak rindu apalagi terjebak masa lalu.


Sunday, October 9

Hadiah Sebuah Percakapan

Sunday, October 9
TUHAN sudah bergabung dalam percakapan.
@AnakBaik : BUZZ!
TUHAN sedang mengetik pesan.
@AnakBaik : BUZZ!
@TUHAN : Sabar sedikit, anak muda. Tak bisakah kau lihat tanda pemberitahuan di atas bahwa aku sedang mengetik?
@AnakBaik : Maaf, TUHAN. Tapi aku sedang terburu-buru, ingin segera mendapat jawaban dari-Mu.
Hampir 15 menit @TUHAN tidak membalas sejak percakapan terakhir. Dan aku mulai gusar, hanya bisa memandangi layar.
@TUHAN sedang mengetik pesan.
Akhirnya DIA muncul juga, pikirku.
@TUHAN : Ada berapa jumlah penduduk di muka bumi ini?

SIAL, pikirku dalam hati. Tapi aku sedang tak ingin berbasa-basi. Aku menggeleng.
@AnakBaik : Aku kurang tahu. Sekitar enam miliar mungkin?
Bukannya menjawab pertanyaan-NYA, aku malah balik bertanya.
@TUHAN : [mengirimkan emoticon senyum sambil menggeleng]
BAH! TUHAN punya selera humor juga, pikirku lagi.
@TUHAN : Kita anggap saja jawabanmu benar, enam miliar penduduk bumi. Anggap saja mereka punya satu permintaan, maka ada berapa jumlah permintaan yang masuk ke kontak percakapan-KU?
Aku mulai berpikir.
@TUHAN : Tapi bukankah manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas? Tidak mungkin hanya satu permintaan mereka, betul?
Aku mulai menggangguk setuju.
@TUHAN : Bisa kau bayangkan permintaan mereka dalam sehari? Sejam? Semenit? Berapa banyaknya, kau yang menghitung.
@AnakBaik : [mengirimkan emoticon bendera putih]
@TUHAN : Maka itu, tenang saja. Tugasmu hanyalah menunggu. Tak perlu kau paksa Aku dengan BUZZ! berkali-kali. Aku tak akan lupa tiap detil permintaanmu. Semuanya tersimpan dalam History-Record percakapan kita.
Aku tetiba malu.
@TUHAN : Aku punya hadiah untukmu. Yang sudah kau tunggu-tunggu. Namanya @GadisManis. Aku sudah mempersiapkan kesempatan agar kau bisa mendekatinya. Ini kan permintaanmu?
@AnakBaik : [mengirimkan emoticon senyum dengan pipi merah] Maaf, TuUHAN, kalau mungkin selama ini aku bertindak kurang sabar.
@TUHAN : [mengirimkan emoticon senyum] Ingat, Aku pasti menjawab segala permintaan kamu. Entah itu dengan jawaban 'YA', 'TIDAK' ataupun 'MENUNGGU', tapi satu yang pasti, Aku pasti akan menjawab.
Nama itu memang permintaanku. Namun, percakapan ini adalah hadiah sesungguhnya.
Tak sanggup lagi jemari ini untuk mengetikkan tombol-tombol di keyboard. Dan aku hanya bisa membalas percakapan terakhir dengan TUHAN lewat air mata.

Thursday, October 6

Pesan Dalam Sepotong Telur Dadar

Thursday, October 6
Pasar sudah ramai sepagi ini. Dan aku sudah siap dengan keranjang belanja dan notes kecil berisikan apa saja yang akan dibeli.

Aku mulai memberi tanda centang pada barang-barang di dalam list yang sudah kubeli. Dan, selesai!

Sekarang waktunya ber-eksperimen di dapur, pikirku.

Kupecahkan beberapa butir telur. Kukocok singkat. Kutambahkan sedikit garam dan kornet sebagai variasi. Begitu pula dengan irisan cabai yang dipotong kecil. Lalu kumasukkan dalam wajan yang sudah berisi minyak panas. Siap untuk digoreng.

Voila! Jadilah telur dadar pertama buatanku.

Kumasukkan ke dalam kotak makan dan kubungkus dengan pita.

Kutempelkan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun di atasnya.

"Selamat ulang tahun ayah, Ayah pasti sekarang bangga sama aku!" ucapku dalam hati.

Kuletakkan kotak makan berisi telur dadar tadi di atas nisan kubur ayah.

"Semoga ayah gak keasinann yah!" tak terasa air mata meluncur cepat dari pipiku.

Hari ini tepat hari ulang tahun ayah. Dan aku tahu di atas sana Ia pasti bangga padaku sekarang.

"Anak cewek itu mbok ya bisa masak! Ya minimal bikin telor dadar!" itu pesannya yang masih terngiang-ngiang di kepalaku hingga kini. Dan aku sudah menunaikannya.

Saturday, October 1

Ritual Malam Minggu

Saturday, October 1
Matahari tampak lewat celah jendela. Dia seolah mengejek aku yang masih tergeletak pasrah di atas buntalan kapas ini.
09.45
Aku melihat jarum jam. Untung hari ini hari Sabtu, hari paling nikmat diantara hari lainnya karena aku bebas menikmati hidup tanpa harus diburu oleh waktu. Dan ini yang paling nikmat, tak perlu repot-repot mandi pagi.
Hampir setengah jam aku berguling-guling di atas kasur, kesana-kemari.
12.05
Apa? Ternyata mataku tertutup kembali rupanya. Entah mantra apa yang dirapal oleh kasur hingga mataku lengket dibuatnya? Malaskadabra, mungkin.
Kurasa, kalau saja perut ini tak meraung-meraung berteriak kelaparan, mungkin aku tetap lebih memilih masih berdiam di atas kasur ini.

13.25
Mana telepon genggamku? Sudah hampir setengah hari, kenapa dia tak menampakkan tanda-tanda kehidupan?
Sekalinya dia berbunyi, SMS dari operator seluler ternyata.
Perasaan paling perih dari seorang jomblo adalah perasaan akan kurangnya perharian.
13.55
Aku mulai menyalakan layar segiempat berukuran dua puluh satu inchi. Namun berkali-kali juga aku menekan tombol angka pada remote-control. Tidak ada tayangan menarik. Hanya ada tontonan sampah? Kenapa harus ada tayangan berita di hari yang seharusnya dipenuhi suasana santai macam begini?
15.45
Aku kembali melirik telepon genggam. Berharap ada secercah harapan, siapa tahu ada SMS nyasar berujung pacar. Bukan, ini bukan tentang rhyme.
Ternyata masih tetap kosong.

17.05
Hah? Ternyata sudah jam segini. Sebentar lagi aku akan melaksanakan ritual malam minggu. Ya, ritual.
Jika melihat frekuensi betapa sering aku melakukannya.
Sial kalian! Jangan menertawai aku. Kalian pikir hanya karena aku jomblo, lantas aku tak bisa bermalam-minggu?
17.15
Aku buru-buru mandi. Tak pernah aku sesemangat ini kalau berurusan dengan hal yang satu ini.
17.35
Aku sudah bersiap. Pakaian terbaik yang kukenakan. Parfum sudah kusemprot berkali-kali.
Pria mana yang mau mengecewakan teman kencannya?
18.00
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Pertanda sudah memasuki Waktu Indonesia Bagian Malam Minggu.
18.50
Baiklah, saatnya aku berangkat. Meninggalkan dunia nyata. Menuju dunia maya. Selamat melaksanakan ritual malam minggu, semuanya!

Thursday, September 29

Dipertuan Siapa?

Thursday, September 29
Lima menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Aku tunggu kamu di depan gerbang.
Begitu isi pesan singkat tersebut. Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum simpul.
Setengah berlari kecil aku mendekat ke arah pintu gerbang. Tampak dia sudah berdiri tegak berpayungkan sebelah telapak tangan yang menutupi sebagian wajah. Takluk di bawah terik matahari.
"Kamu terlambat sepuluh menit! Jadi harus traktir aku es cendol!" sahutnya setengah merajuk.
Dan aku hanya bisa tersenyum mengangguk.
Mana bisa aku menolak rajuk yang sudah diselipkan senyuman maut macam begitu. Gantian sekarang aku yang takluk.
Lalu kami berdua berjalan menuju kantin sekolah, tempat es cendol terbaik yang pernah ada. Entah susuk apa yang dipakai abang penjualnya.
"Es cendolnya satu aja, Bang!" sahutku ke arah si abang penjual.
"Loh? Kok cuma satu, kamu gak ikut minum?" dia bertanya kebingungan sambil mengerutkan dahi.
"Enggak usah! Lihat kamu minum aja aku udah kenyang kok! Coba senyum, nah kan senyum kamu masih lebih manis dari es cendolnya!"
Tiba-tiba dia melempar gumpalan tissue yang dari tadi digenggam tangannya. "Gombal!"
Memang benar kata orang, waktu seakan lebih cepat jika dihabiskan dengan orang yang kita sayang. Setengah jam sudah kami di kantin ini. Lalu kami melangkah pulang.
Entah apa yang sengaja dirancang semesta, namun rumah kami berdekatan. Hanya berjarak beberapa gang. Takdir atau jodoh? Entahlah.
Dan tiba-tiba dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kaki kami melangkah masuk ke sebuah warung internet.
"Kok tiba-tiba ke sini?" dia kembali bertanya sambil mengerutkan dahi. Dan aku hanya bisa mengangkat bahu.
Ruangan tertutup yang cukup sempit untuk dijejali sepasang remaja berseragam sekolah.
Aku mengambil alih menggerakkan mouse. Namun tetap dia yang memberi intstuksi kemana kursor harus diarahkan.
Ya, pria memang masih dijajah wanita rupanya.
Mulai dari membuka situs Friendster hingga kolom mIRC, semua sudah kami jelajahi. Bosan juga ternyata memberi kesaksian yang hanya ala-kadar-nya atau sekedar basa basi menjaga silatuhrahmi.
"Ih, kamu kenapa? Kok senyum licik gitu?"
Tiba-tiba aku mendapat ide nakal. Kuarahkan kursor ke baris penunjuk alamat situs.
"Coba kamu tutup mata dulu! Aku ada kejutan." pintaku sambil menghalangi pandangannya dengan badanku.
Kuketik cepat alamat situs yang ada di otakku. Kubiarkan memuat sebentar hinggal seluruh gambar utuh sudah tampil di layar.
"TADDAAA!" sahutku terkekeh sambil menggerakkan badan yang menghalangi pandangannya.
Dia hanya bisa melongo melihat layar komputer. Tidak bisa berkata apa-apa.
Sepasang pria dan wanita telanjang dengan posisi menantang sedang menatap kami dari dalam layar.
Dan sekali lagi, benar kata orang, jika dua orang yakni pria dan wanita sedang bersama maka setan akan turut hadir sebagai orang ketiga.
Rasa penasaran yang berkuasa atas kami.
Kadang tertawa, kadang ikut meringis kesakitan, kami menikmati tiap cuplikan video yang bergerak di depan mata.
Dan entah ide darimana, tiba-tiba aku mendaratkan tanganku di atas pahanya. Kugerakkan perlahan ke atas.
Ternyata dia masih sadar. "HEH!" sahutnya sambil menepis tanganku.
SIAL! Pikirku dalam hati.
Aku coba membujuknya, kubiarkan kali ini mata yang berbicara. Dan ya, mata memang selalu berkata jujur!
Tiba-tiba dia meletakkan tanganku di dadanya.
Dan sekarang aku yang kelagapan. Bingung entah harus berterimakasih pada Tuhan atau setan.
Aku mulai menikmati ritme permainan.
Kugerakkan perlahan tanganku. Pelan-pelan bibirku kudaratkan di bibirnya.
Mata terpejam tak melihat apa-apa, namun hati merasakannya. Jantung berdegup bepuluh kali lebih kencang.
Tak peduli lagi pada video bergerak di layar, kami sudah punya gerakan sendiri. Berusaha tak menimbulkan suara sekeras mungkin.
Aku mulai mengulum bibirnya. Namun sudah terlebih dulu aku mengulum hatinya.
Dan inilah ciuman pertama kami. Setelah hampir tiga bulan merasakan kebersamaan.
Entah siapa yang menjadi tuannya, apakah cinta atau nafsu? Tapi yang pasti, bilik sempit serta layar komputer ini jadi saksinya.

Saturday, August 13

Di Balik Bilik

Saturday, August 13
Dalam kotak berukuran meter kami saling bertatapan.
"Aku ingin bicara," katanya seketika.
Jantungku lalu berdegub.
Ada apa lagi kali ini.

Dan dia mulai merajuk.
Berkedip sekali-dua-kali.
Hingga akhirnya hanya hitam yang tampak.

SIALAN!

Selang beberapa menit kemudian dia menyala.
Terang, seolah semua kembali normal.
"Aku ingin seperti mereka," sahutnya ketus.

Dan seolah skenario yang benar-benar sudah diatur,
Terdengar bunyi krasak-krusuk dari bilik sebelah.
Erangan halus diiringi suara manja.
Serta hembusan napas yang saling beradu.
Bagai keriaan yang tak akan pernah berakhir.
Nikmat meraih surga.

GILA!

"Aku memang pacarmu di kala malam minggu," ucapku berang.
"Tapi kau hanya sebuah layar bermesin! CAMKAN ITU!"
lanjutku sambil melangkah keluar.





ditulis dari bilik nomor lima
bukan berdasar kisah nyata, hanya fiksi belaka



Saturday, April 23

Buku dan Si Burung Pekicau

Saturday, April 23
Siang itu terik sekali. Aku bisa mendengar pembicaraan dua orang wanita yang saling mengobrol melalui telepon genggam itu. Sambil berbicara dia menggerakkan telapak tangan membentuk semacam kipas karena gerah.

Sesekali dia melirik aku.

Dari sini aku bisa mendengarkan pembicaraan mereka.

"Elo emang udah follow dia? Gw barusan di-mention." tanya wanita yang di ujung telepon.

"Yaelah, gw udah di-follow dari sebulan yang lalu!" sahutnya dengan nada penuh bangga.

Aku mulai bingung. Apa yang sebenarnya diperbincangkan kedua wanita ini dari tadi.

Follow? Mention? Retweet? Dan sesekali aku mendengar kata Twitter.


Sudah hampir seharian aku dibiarkan tergeletak di atas meja. Dibiarkan terbuka dengan pembatas persegi panjang di halaman yang masih sama. Tidak berubah dari beberapa minggu yang lalu.


Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikan dia. Sementara aku bisa melihat mimik wajahnya berubah-ubah. Mulai dari tertawa terbahak hingga tiba-tiba mengerutkan dahi. Tapi tetap dengan jempol yang menempel di keypad telepon genggam. Mengetik dengan cekatan.

Dan beberapa hari berikutnya aku masih tergeletak di meja. Masih dibiarkan terbuka. Dengan halaman yang sama. Namun kali ini bedanya ada debu yang mulai menempel di tubuhku.

Sepertinya dia sudah lupa padaku. Betapa aku dulu kecintaannya.

Diam-diam aku bergerak menuju meja komputernya. Kutekan tombol untuk menyalakan monitornya. Kulihat halaman situs terakhir apa saja yang dikunjunginya.

Dan benar saja, nama Twitter muncul berbaris.

Ternyata ini yang menyebabkan aku dibiarkan berdebu selama ini. Mainan baru yang mencuri perhatian terhadap aku.

Aku mulai mengarahkan mouse komputer menuju petunjuk 'Buat akun baru'. Dan ya, berhasil! Aku resmi terdaftar di situs jejaring sosial ini.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Matanya langsung menuju ke arah komputer yang menyala.


Apa aku lupa mematikan komputer? Dengan internet dan situs twitter yang masih terpampang di layar? Pikirnya.

Dia bingung melihat kenapa aku tergeletak di depan komputer. Sementara aku pura-pura tak bergerak agar tak ketahuan.

Dia menyentuhku. Sedikit membersihkan debuku. Apa ini pertanda dia akan memberi perhatian kepadaku kembali? Aku berharap cemas.

Hinga, BRAAK! Terdengar bunyi benda jatuh di lantai. Ya, itu aku!

Dia begitu saja melempar aku sementara tangannya langsung beralih ke situs jejaring sosial itu.

Dan benar, rasa penasaran itu menyakitkan. Twitter (hampir) membunuhku.





Cerpen ini dibuat untuk merayakan Hari Buku yang jatuh tepat hari ini.
Sudah berapa banyak buku yang dibaca setelah membuka akun twitter?

Jika buku bisa menangis, dia pasti akan berkata: Kalian berubah :'(

Terinspirasi dari fiksimini saya yang dibuat tadi pagi.

PENASARAN. tidak mau ketinggalan, buku pun membuka akun di twitter. @fiksimini

Sunday, April 17

Cinta yang Berseberangan

Sunday, April 17
Matahari siang ini tampak seperti sedang emosi. Terlihat dari temperaturnya yang sedang naik. Sementara aku mulai melangkahkan kaki keluar dari pintu gerbang sambil sesekali memicingkan mata ke atas. Kecilin sedikit suhunya, PLEASE! batinku dalam hati.

Dan handphone-ku tetiba bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

Aku sudah dijalan. Sampai bertemu nanti.

Entah kenapa bibir ini langsung membentuk lengkungan ke atas. Ya, kebahagiaan itu bisa datang darimana saja. Termasuk pesan yang sangat singkat dari orang tersayang.

Aku sudah sampai di tempat biasa. Cafe es krim dari jaman belanda tak jauh dari Stasiun Kereta Juanda. Dan tanpa ditanya lagi, Mbak Pelayan sudah tahu bahwa aku akan memesan Spaghetti Ice Cream dan Banana Split layaknya beberapa bulan belakangan ini.

Tak sampai sepuluh menit sosok yang ditunggu muncul di hadapanku. "Maaf, macet!" sahutnya sambil cengengesan.

"BASI!" jawabku sambil berpura-pura membuang muka dan cemberut.

"Ih, gitu aja ngambek! Malu kamu sama umur," celotehnya sambil mengunel-unyel rambutku. Aku masih belum memberi reaksi.

"IYA! Aku minta maaf!" lanjutnya. Dan tiba-tiba sebuat kecupan mendarat di keningku.

Aku mulai tertawa cengengesan. "Nah, gitu dong!".

"DASAR, kamu! Alasan aja. Bilang aja minta dicium!" sahutnya sambil mengambil posisi duduk.

Dan hal berikutnya yang kami nikmati adalah es krim dan obrolan absurd penuh tawa.

Jumat siang dan es krim memang sudah menjadi semacam ritual sebelum kami menjalankan ritual yang sesungguhnya. Dan tak terasa matahari sudah tepat berada di atas kepala. Menandakan sebentar lagi waktu akan menunjukkan pukul dua belas.

"Sudah waktunya, ayo pergi!" sahutku sambil menyudahi pembicaraan.

Dan kami pun mengucap kata perpisahan sambil saling membalas lambaian tangan. Mulai melangkahkan kaki ke arah yang berbeda. Berseberangan.

Aku melangkahkan kaki ke sebuah bangunan bergaya gotik tak jauh dari situ. Bangunan berwarna coklat dengan lambang salib di atasnya. Ada ritual kebaktian di jam seperti ini. Persekutuan menghadap kepada Tuhan.

Sementara dia melangkahkan kakinya ke sebuah bangunan bergaya timur tengah dengan kubah megah di atasnya. Dia pun akan menghadap Tuhan-nya dalam ritual Shalat Jumat.

Aku tak ingin lagi berbicara tentang aku dan dia melainkan tentang kami.

Ya, cinta kami satu walau rumah Tuhan kami berseberangan.

Entahlah dimana cinta ini akan berujung. Bahkan semesta pun belum berani menyingkapnya. Yang kami tahu, selama kami masih memuja Tuhan maka selama itu pula kami akan mengagungkan cinta.



Sunday, March 13

Hujan dan Kopi

Sunday, March 13
Aku mulai melangkahkan kaki dengan cepat. Langit gelap seolah mengejar dari belakang. Mendung datang lagi. Setelah beberapa hari ini aku tidak membawa payung karena cuaca yang cenderung panas. Tapi ternyata tidak kali ini. Memang benarlah adanya sekarang bahwa selain jodoh, rejeki dan maut, cuaca pun hanya Tuhan yang tahu.
Dan benar saja, hujan turun dengan cepatnya.

Tanganku tetiba membuka pintu masuk sebuah coffee shop sementara kakiku ikut melangkah masuk ke dalamnya

Lumayanlah untuk berteduh hingga hujan berhenti, pikirku.

Seorang wanita langsung datang menghampiri dan memberikan buku berisi sajian menu.

Tanpa berpikir panjang, aku memesan segelas coffee latte. kombinasi sepertiga espresso dan dua pertiga susu. Sehingga rasa susunya lebih terasa. Cocok untuk menemani di saat hujan, pikirku.

Aku mengarahkan pandangan mata keluar lewat jendela. Melihat orang-orang yang lari beradu cepat dengan rintik hujan. Juga orang-orang yang berteduh agar tidak terkena hujan.

Tetiba pikiran ini melintas di pikiranku. Ada apa dengan hujan? Apa yang sudah diperbuatnya? Kenapa orang-orang seperti menghindar darinya?

Aku justru sebaliknya. Seandainya aku membawa baju ganti saat ini, aku pasti akan keluar dan bermain bersama hujan. Berdansa di bawah rintiknya. Tapi apa boleh buat? Hanya baju yang menempel di kulitku ini yang ada padaku.

Lamunanku terganggu seketika oleh Coffee Latte yang sudah datang.

“Terimakasih,” sahutku melempar senyum kepada wanita yang mengantarkan kopiku. Dia membalas senyum.

Kuangkat gelasku dan tetiba aku menemukan secarik tissue yang berisi tulisan di bawahnya. ‘HAI, GEMINI’.

Aku tersentak kaget dan mulai melihat sekeliling coffee shop. Siapa yang mengirimi secarik tissue. Dan yang lebih membuat kaget lagi darimana dia tahu zodiak-ku?
Mungkinkah sebuah kebetulan? Tak mungkin, pikirku.

Aku kembali memanggil wanita pelayan yang melayaniku tadi. “Ini dari siapa, mbak?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.

Wanita itu kembali tersenyum sambil menunjuk ke arah pria yang sedang meracik kopi di ujung sebelah sana.
Aku menggelengkan kepala. Ada-ada saja, pikirku.

Hujan belum juga reda. Kuteguk coffee latte-ku sambil melihat keluar. Beberapa orang sudah berani mengambil langkah untuk menantang hujan. Membuatku semakin berpikir, kenapa tidak daritadi mereka mengambil langkah? Bukankah pada akhirnya pasti akan terciprat juga?

“Maaf, Permisi!” tanya seorang pria. “Boleh duduk disini?”. Pria peramu kopi yang yang di ujung sebelah sana tadi sekarang tepat dihadapanku. Aku kembali mengerutkan dahi.

“Silahkan!” jawabku.

“Maaf, untuk tulisan di tissue yang tadi,” sahutnya sambil sedikit tersenyum.

“Ah, sudahlah! Tidak usah dipedulikan.” jawabku.

“Tapi benarkan, kau Gemini?”.

“Ah, itu hanya tebakanmu saja!”

“Tapi aku bisa menebak zodiak-mu dari kopi kesukaanmu,”.

Aku mengerutkan dahi. Tiba-tiba tawaku lepas. “Mana mungkin? Lagipula apa hubungannya antara zodiak dan kopi?”.

Sekarang gentian dia yang balas tertawa. “Tapi setidaknya tebakanku tentang zodiak-mu, benar kan?”.

“Baiklah!” aku mengangguk.

“Si Gemini yang memiliki daya pikat luar biasa bagi orang lain, selalu membutuhkan teman dan pendapat dari orang lain. Si Gemini yang tidak bisa diam pasti membutuhkan kopi yang bersifat menenangkan. Dan pilihannya jatuh kepada Coffee Latte.”
Aku diam mendengarkan penjelasan pria ini. Memang ada benarnya juga sih, pikirku.

“Aku bisa menebak zodiak dua wanita yang sedang mengobrol di sebelah sana hanya dari kopi yang mereka minum. Berani menantang?” tanyanya.

“Silahkan,” jawabku.

“Kalau tebakanku benar, nomor teleponmu harus tercatat di telepon genggamku. Setuju?” pertanyaan yang membuat nyaliku sedikit ciut.

Tapi entah kenapa kepalaku ini cepat sekali mengangguk setuju.

Lalu pria itu bergerak dari kursi dan mulai bertanya kepada dua wanita yang sedang duduk mengobrol tak jauh dari mejaku. Mereka agak sedikit berbincang. Si pria memperhatikan gelas kopi di hadapan mereka. Lalu pria itu kembali ke mejaku.

“Wanita berambut panjang dan memakai gaun merah itu meminum Espresso. Tebakanku dia pasti ber-zodiak Aries. Sementara wanita yang satu-nya lagi itu meminum Caramel Macchiato dan zodiac-nya pastilah Leo.” dia mulai menjelaskan.
Aku memperhatikan dengan seksama. Kulihat dua wanita yang tadi baru saja ditunjuknya.

“Sekarang giliranmu. Coba kau tanya pada mereka apa zodiac mereka!” perintahnya sambil kembali tersenyum.

“Baiklah,” sahutku sambil berjalan ke arah dua wanita tadi.
Aku kembali sambil senyum sendiri.

“Dari mana kau tahu semua itu?” tanyaku tiba-tiba. “TAK MUNGKIN! Ini pasti rekayasa.”
Aku setengah tak percaya. Ada jeda dimana kami diam berdua. Semesta membuatku bengong sejenak hingga akhirnya kami pun tertawa. Aku masih tak percaya. Jawaban kedua wanita tadi sama dengan tebakan si pria peramu kopi itu.

“Si Aries biasanya memiliki sifat ’sedikit’ keras kepala dan selalu ingin menjadi yang terdepan. Nah, kopi yang cocok buat mereka adalah Espresso. Aroma Serta rasa yang kuat cocok dengan sifat mereka.”

“Sementara Si Leo, pribadi dengan segudang argumen, memiliki banyak cara untuk mendapatkan keinginannya. Hari-hari si Leo makin ‘hidup’ dengan ditemani secangkir Caramel Macchiato.”

Pria itu kembali menjelaskan dan aku sekali lagi diam terpesona. Benarkah kopi dan zodiak itu benar-benar berhubungan? Atau mungkin pria peramu kopi ini hanya kebetulan benar. Tapi tebakan benar hingga tiga orang apakah masih bisa disebut kebetulan? Pikiran dalam otak kembali berperang.

“Sepertinya hujan sudah reda. Aku harus pulang,” sahutku sambil menatap keluar. Sudah tak tampak lagi rintik air yang jatuh berlomba dari atas langit sana.

“Dan oh iya, ini nomor telepon selulerku! Obrolan serta tantangan yang menyenangkan!
” lanjutku sambil menyodorkan tissue dengan beberapa nomor tertulis di dalamnya.

Aku bangkit berdiri dan keluar dari kursi. Melangkah keluar dari coffee shop.

Sementara itu, masih ada perbincangan di dalam coffee shop.

“Kita BERHASIL! Silahkan kalian mengambil libur hari minggu,” sahut pria si peramu kopi sambil melempar senyum ke arah dua wanita yang tadi diajaknya mengobrol. Dan mereka terlihat tertawa bersama.

Aku memicingkan mata melihat kejadian itu dari jendela luar coffee shop. Kulihat ada bayangan kalung menjuntai dari leherku bertuliskan ‘Gemini’. Dan aku pun tersadar dengan semua tebakan omong kosong ini.

Telepon selulerku mulai bergetar.
DASAR PRIA, pikirku.

Dan semesta selalu punya cara sederhana dalam mempertemukan cinta. Sesederhana cinta itu sendiri.

Jika di ceritaku cinta bertemu melalui hujan dan kopi, bagaimana dengan ceritamu?


Saturday, January 22

Surat Cinta Untuk Madhuri: Akumulasi Rindu

Saturday, January 22
Selamat malam, Madhuri.


Apa kabar hatimu?

Semoga cintamu masih tetap utuh dan doamu masih tetap sama. Terselipkan namaku. Jaminan amin atas kebahagiaan kita.

Jangan kau tanyakan kemana aku selama dua hari ini!

Bukannya aku melupakanmu. Lagipula mustahil itu terjadi.

Paku yang kau tancapkan di otakku terlalu dalam hingga sudah masuk mencapai dasar hatiku. Entah bagaimana caramu melakukan itu.

Ya, paku yang bertuliskan namamu itu.

Aku sengaja tak mengirimu surat cinta.

Untuk memberi sedikit ruang di hatimu agar bernapas. Menhembuskan jarak dan waktu. Menghela rindu.

Menyisakan satu.

Bilakah bertemu?

Wednesday, January 19

Surat Untuk Madhuri: Hujan, Rindu Bertemu.

Wednesday, January 19
Selamat pagi, Madhuri.
Sepagi ini kau pasti sudah bangun dan langsung menatap keluar dari daun jendela. Aku sudah hafal kebiasaanmu di kala hujan. Berdiam diri memandangi butiran hujan yang menghampiri.

Hei, jangan bertopang dagu. Tak baik itu katanya.

Aku jadi memikirkan apa yang sedang kau pikirkan di kala hujan.

Kalau aku? Sudah pasti kau.

Rinduku melebur dalam butiran hujan. Berpacu menuju tanah. Berharap singgah dihatimu.

Oh iya, tahukan kau kenapa pelangi tak muncul pagi tadi? Dia sedang merenda warna, menjahitnya dengan senyuman dari balik jendela.

Ah, aku semakin rindu.

Omong-omong, aku mulai beraktifitas hari ini. Iya, aku sudah makan tepat waktu. Dan obat juga sudah kuminum. Sudah, jangan khawatir.

Lihat, sekarang hujan sudah reda.
Menyisakan rindu.

Meninggalkan tanya, kapan kita bertemu.

Tuesday, January 18

Surat Cinta Untuk Madhuri: Perawat Hatiku (Bagian II)

Tuesday, January 18
Selamat malam, Madhuri.

Aku masih terkungkung disini. Dalam kesendirian. Dengan sakit yang masih tertahankan. Hanya beranjak seluas 2 x 2 meter di atas kasur. Ditemani layar kaca 21 inchi.

Bosan memang.

Tapi untunglah, walaupun ragaku tertahan di kamar. Pikiranku masih bisa melayang-layang.

Ya, ke arah kamu.

Aku sudah minum obat. Begitupun dengan makan tepat waktu. Terimakasih sudah mengingatkanku akan hal itu.

Perhatian-perhatian kecil itu jauh lebih manjur dari segala jenis tablet yang masuk ke pembuluh nadiku.

Dan aku punya cerita. Aku ingin mengenalkan padamu teman baruku. Namanya, Polysilane.

Dia yang merawat aku sekarang. Berbentuk cairan berwarna putih. Rasanya manis bercampur mint. Segar.

Sudah jangan cemburu begitu.

Baiklah, aku ganti. Dia yang merawat lambungku sekarang.

Sementara kau? Tetap merawat raga serta hatiku pastinya.

Jangan lupa sebut namaku dalam tiap sujudmu. Doakan kesehatanku.

Aku tak sabar ingin bertemu denganmu. Sang perawat hatiku.

Ya, aku yang selalu mencintaimu.


Monday, January 17

Surat Cinta Untuk Madhuri: Perawat Hatiku (Bagian I)

Monday, January 17
Selamat pagi, Madhuri.

Bagaimana kabarmu? Aku tidak terlalu baik.

Bukan, aku sedang membicarakan sakit malarindu.

Tapi pagi ini aku terbangun dengan lambung yang perih. Melilit sekali.

Iya, aku tahu ini memang salahku yang tidak mendengar celotehmu. Mengabaikan perhatianmu. Untuk mengisi perutku tepat waktu.

Kegiatan ini mulai membunuhku. Untung ada cintamu yang menguatkan aku.

Aku menulis surat ini dengan segelas teh hangat digenggaman.

Tapi kuakui, cintamu lebih mampu menghangatkanmu.

Jangan khawatir. Aku sudah menelan pil pengurang rasa sakit.

Walau senyummu tetap pil penawar sakit termanjur untukku.

Seandainya kau ada disini.

Tak perlu aku khawatir lagi. Karena ada kau yang akan merawatku.

Bukan hanya mengurus raga, pun hatiku.

Sunday, January 16

Surat Cinta Untuk Madhuri: Kesederhanaan Cinta.

Sunday, January 16
Selamat malam, Madhuri.

Bahagiaku, hari ini. Bisa melihat wajahmu (lagi).

Tawamu hari ini, kredit bahagiaku bagi masa yang akan datang.

Kau tampak cantik hari ini. Memakai gaun putih dan sepatu berhak tinggi berwarna senada. Ah, menawan. Seperti biasanya.

Rambutmu sengaja kau ikat gelung keatas. Menampakkan lehermu yang agak jenjang itu. Dengan menutup mataku, aku bisa menebak itu kau. Dari aroma bau parfum yang tercium dari situ.

Bagai aroma terapi, menenangkan jiwaku. Mempertuan hatiku.

Dan wajahmu yang sengaja tak kau poles dengan make-up itu. Itulah yang suka darimu.

Tak perlu kau pakai perona pipi. Tinggal kupanggil kau dengan sebutan 'Cinta' dan lihat! Pipimu sudah berubah merah muda.

Tak perlu kau pakai pewarna bibir. Namun kepolosan bibirmu itulah candu bagi bibirku. Memagut sukmaku.

Tak perlu kau pakai apa-itu-yang-biasanya-dipakai-wanita-disekitar-mata. Karena aku sudah jelas melihat surga dari situ. Ya, matamu.

Aku mencintai kesederhanaanmu. Sesederhana aku mencintaimu.

Jangan pernah berubah dari kesederhanaan itu, Madhuri.

Karena kesederhanaanmu, cinta yang memegahkan aku.



Saturday, January 15

Surat Cinta Untuk Madhuri: Aku Mimpi, Kamu Nyata.

Saturday, January 15
Selamat Pagi, Madhuri.

Bagaimana tidurmu? Aku tahu kau pasti terlelap. Suara dengkurmu terdengar hingga ke telinga hatiku. Menenangkan jiwa.

Tapi tunggu dulu.

Apakah semalam kau menghampiriku?

Wajah itu. Wajah yang sama denganmu. Warisan surga terindah yang pernah tercipta.

Sentuhan itu. Sutra licin sekalipun akan terkulai lemas bila disentuhnya.

Dan senyum itu. YA, itu senyummu.

Ah, sudahlah. Tak dapat lagi kulukis dengan kata. Tak akan cukup kanvas untuk menggambarnya.

Apa mungkin itu hanya mimpi?

Sekiranya iya, bolehkah aku tidur selamanya saja?

Jangan bangunkan aku.

Agar bayanganmu tak sedetikpun lepas dari bola mataku.

Tapi sudahlah. Toh, sebentar lagi kita akan bertemu.

Madhuri, jangan lupa habiskan sarapan khusus yang kubuat untukmu.

Semangkuk harapan dan segelas tawa hangat. Tadi kusuruh matahari mengantarkan langsung untukmu.

Jangan lupa selipkan namaku dalam tiap doa pagimu. Seperti aku mengucap syukur pada Sang Pencipta tiap kali aku mengingat kamu.

Agar semesta turut merestui kita.

Agar kau yang kupanggil mimpi. Segera menjelma menjadi nyata.

Friday, January 14

Surat Cinta Untuk Madhuri: Selamat Malam, Cinta!

Friday, January 14
Selamat malam, Madhuri.
Apa kabar hatimu? Semoga masih berwarna merah muda. Seranum pipiku bekas kecupan bibirmu tadi.
Lihat ini, masih berbekas merah kan? Sengaja tidak kucuci mukaku dibagian itu. Ya, terdengar bodoh memang. Tapi itulah cinta.
Semoga angin malam menghampirimu? Kusuruh dia menyampaikan salamku. Untukmu.
Kuperintahkan dia menemani tidurmu. Membelai rambutmu, menyentuh pipimu. Seolah itu aku.
Jangan takut. Aku mengintipmu dari jauh. Kau lihat kan kerlingan bintang-bintang itu? Anggap saja itu senyumku. Yang berusaha menghunus jantungmu.
Dan bulan. Dia itu penjagamu. Jangan khawatir. Keselamatanmu aman di tangannya.
Aku tahu. Kau pasti akan mendengkur. Aku siap mendengarnya dari sini. Telinga hatiku.
Tapi tahukah kau? Dengkurmu itu yang meninabobokan aku.
Ya, nyanyian pengantar tidurku.
Menyenangkan, betapa jagad raya akan menyelimutimu dari segala lelah.
Jangan risaukan lelapku. Nyenyak mu itu, bahagiaku.
Selamat malam, semesta.
Selamat tidur, cinta.


Tuesday, November 23

Bermain Bersama Matahari: Tentang Semangat

Tuesday, November 23
Kemana matahari pagi ini? Lupakah dia harus membawakan sarapan untukku? Secangkir harapan serta semangkuk semangat hangat?

Tak tampak sejumput senyum cerah yang terbit dari ufuk timur! Kemana dia? Adakah kalian melihatnya bersembunyi dimana?

Di balik jendela dia tak tampak. Di belakang rumah pun juga. Apa mungkin dia masih tertidur lelap? Sebentar, coba ku periksa ranjangnya.

Hasilnya pun nihil. Entah kemana lagi harus mencarinya? Tapi tunggu sebentar. Seperti ada suara dari dalam kosong di sebelah!

Kubuka pintu perlahan. Nyaris tak ada suara. Gelap. 'Lalu suara apa itu tadi?' bisikku dalam hati. Aku berusaha memicingkan mata.

'Harusnya aku yang menunggu! Mana sarapanku?' volume suaraku mulai menaik. 'Tenang, tak perlu bernada keras. Volume lembut pun aku dengar!'.

'Mana mungkin aku bisa membawakan sarapan apa itu tadi kau bilang? SEMANGAT? Kalau kau tak menemukan aku?' jawab matahari tenang.

'Kuncinya ada padamu. Kalau kau cari, kau pasti dapat!' lanjutnya.

'Benar juga!' pikirku dalam hati. Lagipula sampai kapan mengandalkan matahari membuatkan sarapanku?

Aku harus bisa meracik semangkuk semangat hangat untuk diriku sendiri!

Selalu menyenangkan memang berbicara dengan matahari. Walaupun kini mulai jarang! 'Terimakasih' sahutku. 'Hanya terimakasih?' jawabnya.

'Lantas?' tanyaku sambil mengernyitkan mata. 'Ganti kau sekarang yang buatkan sarapan! Ya, untuk aku!' sahutnya setengah memerintah.

'Kau pikir enak terkurung di ruang hatimu yang gelap dan lama tak terurus ini?' lanjutnya. 'SIAAALLL!'. Dan kami tertawa bersama.


Saturday, October 2

Bahagia Itu, Pagi Ini

Saturday, October 2
Langit masih gelap kebiruan. Tapi aku sudah bersiap mengais rejeki di tengah kerasnya ibukota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.
Semua ini demi selengkung senyum kebahagian di bibir mungil milik perempuan kecil berumur sepuluh tahun. Satu-satunya harta yang kupunya.
Ku kecup keningnya, menandakan aku pamit kerja.
Langit dengan cepat berubah gelap kembali. Ganti bintang dan bulan yang kerja. Pertanda aku sudah harus menyudahi rutinitas ini.
Rasanya waktu dua puluh empat jam itu kurang. Kalian boleh memanggilku si hamba uang. Tapi teringat lagi, peri mungilku. Masa depannya. Bahagiaku.
Setiba dirumah, kubuka gagang pintu kamarnya. Lampu sudah mati.
Hanya terlihat siluet gadis kecil memeluk guling sedang tertidur lelap.
Aku datang mendekat. Ku kecup keningnya. Kali ini memberitahu bahwa aku sudah dirumah.
Perlahan aku keluar sambil berusaha tidak membuat suara, agar peri kecilku tidak terbangun.
Entah kenapa, kakiku menuntun langkahku ke daerah sekitar dapur. Entah kaki atau perut yang kali ini berperan.
Aku terperanjat. Ada sehelai kertas tertahan magnet tergantung menempel di pintu kulkas bagian atas.
Terlihat tulisan cakar ayam di dalamnya. Tahulah aku siapa penulisnya.
Ayah.
Pasti ayah baru pulang waktu baca surat ini.
Dan aku sudah bermain bersama peri lain di alam mimpi.
Memang ayah tak pernah lelah berlomba dengan matahari?
Pergi mendahului matahari dan pulang sesudahnya.
Padahal aku ingin menyimpan tas kerja ayah di kala ayah membuka pintu.
Menyediakan air minum ketika ayah sedang duduk bersandar di sofa.
Diucapkan ‘selamat tidur’ oleh ayah.
Diusap kepalanya.
Seketika air mata ini tumpah.
Belum selesai kubaca kalimat berikutnya. Tak tahan hati ini.
Ada apa di otakku. Kebahagian macam apa yang sedang ku coba berikan.
Tersadar aku.
Lalu aku melangkahkan kakiku kembali ke kamarnya.
Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kupandangi dirinya. Air mata kembali tumpah. Seketika rasa bodoh dan bersalah menyelimuti aku.
Kudekap peri mungil ku erat, hingga akhirnya terlelap.
Aku berusaha menyilangkan tanganku di atas mata. Silau.
Langit tak lagi berwarna gelap kebiruan melainkan cerah. Mentari sudah siap di posisinya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ‘Selamat pagi ayah!’. Sebuah kecupan mendarat di pipiku.
Kuusap kepalanya.
Kupeluk dan kugendong dia.
Kubiarkan matahari cemburu melihat tawa kami.
Kutemukan arti bahagia. Pagi ini.

By drivojansen, on August 25th, 2010


Tuesday, September 7

Cerita Wanita (Bagian I)

Tuesday, September 7
Awalnya hening. Sore itu hanya ada senja kemerahan yang menemani kami. Ketika dua mata saling bertatap, dan bibir tertutup rapat.
'Jadi apa maksud ini semua?' dengan geram ia bertanya. Dan untuk ke-sekian kalinya aku terdiam.
Aku tak mampu menjawab, hanya bisa menunduk.
Lalu dia menguncang-guncang tubuhku. Sambil setengah berteriak,'ceppaaat jawwaaab!'.
Aku mencoba mengerahkan segenap kekuatan. Mencoba mengangkat tegak kepalaku. Menarik nafas. 'Aku mau cerai!'.
Seketika dia melempar beberapa lembar kertas surat di dalam amplop. Dan secepat itu juga sebuah telapak tangan mendarat di pipiku. PLAAK!
Aku masih tertunduk. Mungkin sikap pasrah ini yang membuatnya semakin menjadi-jadi.
'Ini sudah keputusanku. Kau lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Wanita yang lebih bisa memberimu keturunan. Aku sudah ikhlas'. Aku mencoba menjelaskan perlahan.
'Kenapa baru sekarang kau bilang? Kenapa tak kau bilang dari dulu-dulu? Sudah berapa anak yang kupunya kalau begini ceritanya?' maki si pria ketus.
'Maaf'. jawabku. Hanya kata itu yang terlontar dan ada di pikiranku saat ini. Aku berusaha meraih tangannya. Menggenggamnya, mungkin untuk yang terakhir kali.
'Ah, sudahlah. Kapan kita mulai proses ini?' sahutnya sambil menghempaskan lenganku. Badanku ikut terhempas oleh tubuh besarnya.
Dikutipnya kembali amplop berisi surat tadi dari lantai, dan berlalu pergi. Seperti biasa, tanpa pamit.
Sementara aku masih terdiam disini. Duduk sendiri di atas sofa, ditemani langit yang sudah berubah gelap.
Pipi yang berbekas merah serta siksaan raga sekejap reda. Hilang ditelan sakitnya hati. Secepat itu dia men'iya'kan permohonanku? Perceraian ini?
Dan ini antiklimaksnya. Emosi ku pecah. Rasa yang tadi coba kutahan, akhirnya lepas.. Berbentuk butiran air yang keluar perlahan. Turun melewati pipi. Basah.
Hanya itu kekuatan ku saat ini. Berserah pada air mata, membuat ku lega. Dan itu sudah lebih dari kata cukup.



*cerita ini terinspirasi dari video di youtube yang direkomendasikan si Prabu*


DRIVO JANSEN © 2014