Saturday, January 15

Surat Cinta Untuk Madhuri: Aku Mimpi, Kamu Nyata.

Saturday, January 15
Selamat Pagi, Madhuri.

Bagaimana tidurmu? Aku tahu kau pasti terlelap. Suara dengkurmu terdengar hingga ke telinga hatiku. Menenangkan jiwa.

Tapi tunggu dulu.

Apakah semalam kau menghampiriku?

Wajah itu. Wajah yang sama denganmu. Warisan surga terindah yang pernah tercipta.

Sentuhan itu. Sutra licin sekalipun akan terkulai lemas bila disentuhnya.

Dan senyum itu. YA, itu senyummu.

Ah, sudahlah. Tak dapat lagi kulukis dengan kata. Tak akan cukup kanvas untuk menggambarnya.

Apa mungkin itu hanya mimpi?

Sekiranya iya, bolehkah aku tidur selamanya saja?

Jangan bangunkan aku.

Agar bayanganmu tak sedetikpun lepas dari bola mataku.

Tapi sudahlah. Toh, sebentar lagi kita akan bertemu.

Madhuri, jangan lupa habiskan sarapan khusus yang kubuat untukmu.

Semangkuk harapan dan segelas tawa hangat. Tadi kusuruh matahari mengantarkan langsung untukmu.

Jangan lupa selipkan namaku dalam tiap doa pagimu. Seperti aku mengucap syukur pada Sang Pencipta tiap kali aku mengingat kamu.

Agar semesta turut merestui kita.

Agar kau yang kupanggil mimpi. Segera menjelma menjadi nyata.

Friday, January 14

Surat Cinta Untuk Madhuri: Selamat Malam, Cinta!

Friday, January 14
Selamat malam, Madhuri.
Apa kabar hatimu? Semoga masih berwarna merah muda. Seranum pipiku bekas kecupan bibirmu tadi.
Lihat ini, masih berbekas merah kan? Sengaja tidak kucuci mukaku dibagian itu. Ya, terdengar bodoh memang. Tapi itulah cinta.
Semoga angin malam menghampirimu? Kusuruh dia menyampaikan salamku. Untukmu.
Kuperintahkan dia menemani tidurmu. Membelai rambutmu, menyentuh pipimu. Seolah itu aku.
Jangan takut. Aku mengintipmu dari jauh. Kau lihat kan kerlingan bintang-bintang itu? Anggap saja itu senyumku. Yang berusaha menghunus jantungmu.
Dan bulan. Dia itu penjagamu. Jangan khawatir. Keselamatanmu aman di tangannya.
Aku tahu. Kau pasti akan mendengkur. Aku siap mendengarnya dari sini. Telinga hatiku.
Tapi tahukah kau? Dengkurmu itu yang meninabobokan aku.
Ya, nyanyian pengantar tidurku.
Menyenangkan, betapa jagad raya akan menyelimutimu dari segala lelah.
Jangan risaukan lelapku. Nyenyak mu itu, bahagiaku.
Selamat malam, semesta.
Selamat tidur, cinta.


Monday, January 10

Hatimu, Yang Kau Titipkan Padaku.

Monday, January 10
@sheviona:
Hatiku, seingatku belum pernah kuberikan padamu.
Entah kapan, kulihat ia sudah berada dalam genggamanmu.
Berdenyut di sela kuasa jarimu.

@drivojansen:
Hatiku. Terukir jelas di kalender itu.
Tinta merah bergambar senyum itu.
Pernah kau titipkan padaku.

@sheviona:
Mungkin, terlalu banyak candu yang kauselip di kecupmu.
Sungguh, hilang sadarku kala menitipkannya padamu.

@drivojansen:
Hatimu, yang kau titipkan padaku.
Ku jaga agar tak rapuh dimakan waktu.
Ku isi doa, agar tetap menyala.
Menjadi lentera jiwa.

@sheviona:
Doa apa yang kaubaca?
Ia mendetakkan namamu, hanya untuk layu di penghujung hadirmu.
Aku tak mau ia hidup, kalau bukan denganmu

@drivojansen:
Doa agar semesta menurunkan hujan.
Agar kita bisa menabur benih di tengah harap.
Dalam kata berbalut janji.
Berujung setia.

@sheviona:
Jangan janji. Pernah sakit hatiku dihempasnya.
Aku tak mau hanya sekedar kata.
Diam sajalah, genggam hatiku selamanya.

@drivojansen:
Pegang kataku. Seperti kau pegang hatiku.
Itu bukti aku menjaga hatimu.
Ya, hati yang kau titipkan padaku.

@sheviona:
Ijinkan aku menjalin kata katamu menjadi jaring.
Karena padamu, aku ingin terjatuh lagi.
Tangkap aku. Itu saja pintaku.

@drivojansen:
Jaring pengikat cinta kita.
Jangan takut. Kau akan lebih dari kutangkap.
Bahkan kusimpan sebagai kenangan terindah.
Kado istimewa dari semesta.
Ya, istimewa.




diposting dari sahutan kicau antara @sheviona dan @drivojansen.

Thursday, December 30

Rinduku Sudah Mati

Thursday, December 30
Rinduku sudah mati.

Tertikam pilu. Tersapu hujan.

Saat tangan itu mendekap hangat pundakmu.
Pundak yang sama, tempat hatiku kala rapuh bersandar mencari teduh.

Saat mata yang sama tempatku menatap eloknya surga.
Kini sudah menemukan surganya sendiri

Saat matahari kehilangan cahaya.
Perlahan memudar. Buyar terpencar.

Saat rasa perlahan terkubur oleh ketakutan yang berkuasa.
Saat doa jadi senjata atas jarak.

Saat tiap alfabet atas namamu sudah bertuan.
Menjadi jawaban atas doa bagi si pemiliknya.

Rinduku sudah mati.

Hatiku kembali tak berpenghuni.

Menanti kau-yang-tak-tahu-entah-siapa mengucap jampi.
Agar dia hidup kembali. Entahlah, apa waktu bisa menggenapi!

Tertutup kafan suci. Atas cinta, mimpi dan harapan.
Meninggalkan satu ukiran kisah bertema kepedihan.

Rinduku sudah mati.

Dan aku hanya bisa menitip pesan pada doa.

Agar kalian terberkahi.




Friday, December 24

[Preview] Penyulam Rasa

Friday, December 24
Namanya, Pai Inong.

Hanya menyulam satu-satunya kegiatan yang dari dulu hingga sekarang ia tekuni. Sampai detik ini.

Hanya suara radio yang menemaninya. Satu-satunya harta berharga yang dimilikinya.

Hingga akhirnya suara lagu dari radionya tetiba mati dan berganti dengan musik berlatar belakang berita.

'Pendengar, telah terjadi letusan di Gunung Merapi, Jogjakarta. Diperkirakan lelehan lahar menuruni lereng gunung, ke arah pemukiman penduduk. Abu vulkanik terasa di sekitar udara. Penduduk telah dievakuasi seminggu setelah peringatan 'Awas' Gunung Merapi berubah menjadi 'Siaga'. Demikian info yang kami berikan. Nantikan terus perkembangan mengenai meletusnya Gunung Merapi.'

'Anak ini bernama Hadi. Berumur sekitar delapan tahunan. Dia terpisah dari keluarganya, ketika warga sedang panik-paniknya mengungsi turun ke bawah lereng gunung. Dia tidak tahu dimana ayah, ibu beserta ketiga adiknya berada'.

Sementara si anak yang dimaksud hanya diam tak mampu berkata apa. Air matapun tampak sudah kering, enggan keluar. Tak mampu mewakili kata-kata lagi.

Gantinya Pai Inong yang meneteskan air mata. Entah kenapa, terurai jatuh.

Tiba-tiba tangan Pai Inong meraih bolpoin. Diambilnya kertas dan mulai digoresnya tinta.

Engkau tahu kenapa pada hari pertama kau berada di bumi, ayah dan ibumu menamakan engkau seperti namamu?

Untuk hari ini. Saat ini. Itu alasannya.

Hadi. Laki-laki.

Apakah engkau tahu apakah artinya itu? Agar engkau tegar. Tidak menyerah pada hidup. Dan terus berjuang, sekeras apapun itu. Ciri laki-laki sejati.

Dan saat ini, kau sedang diuji. Begitupun namamu.

Boleh saja kau pikirkan keluargamu yang terpisah. Tapi jangan larut. Bumi tetap berputar. Hidup selalu berjalan.

Pasti ada rencana indah dari Sang Pemilik Semesta dibalik ini semua. Aku yakin itu.

Hadi, jadilah laki-laki sejati. Seperti namamu.

KAU PASTI BISA!

Air mata menetes sembari Pai Inong menulis. Dia tahu persis perasaan Hadi saat itu. Tersesat. Tak ada pegangan.

Pai Inong kembali pilu. Tak sanggup lagi menahan luapan air mata entah untuk yang keberapa kalinya.

Pikirannya kembali melayang. Menyusuri jejak waktu. Menembus jarak masa lalu. Ketika air bervolume besar menyapu bersih gubuk tinggal, meluluh-lantahkan segalanya. Yang juga turut menjemput cucu laki-laki kesayangannya. Ya, 26 Desember beberapa tahun lalu.


-sekian-
Untuk detail ceritanya, AYO BELI BUKUNYA! cerita ini ada di #writers4indonesia: Be Strong, Indonesia! buku #enam!
DRIVO JANSEN © 2014